Selasa, 24 Februari 2009

Car call...... or double call?

Di satu siang di satu gedung perkantoran di Jakarta.

Sehabis meeting bersama client, sambil menuju ke lantai bawah saya mencoba menghubungi supir kantor, Pak Obong namanya, via telfon untuk memberitahu bahwa saya sudah selesai meeting. Biasanya kemudian Pak Obong akan mendatangi saya yang menunggu di lobby. Tapi kali itu entah kenapa, hp Pak Obong tidak bisa dihubungi. Panggilan saya selalu masuk ke mailbox.
Sampai di lantai bawah, saya menuju counter receptionist untuk mengambil kembali KTP yang sebelumnya saya tukar dengan tanda pengenal untuk masuk ke dalam gedung. Yang duduk dibalik counter adalah seorang bapak dengan kumis tebal. Sambil menukarkan tanda pengenal, saya berpikir mungkin lebih baik saya mencoba untuk memanggil Pak Obong melalui fasilitas Car Call, karena tadi hp-nya tidak bisa dihubungi. Saya lalu berinisiatif untuk bertanya pada si Pak Kumis di balik counter.

"Pak, disini bisa car call?" tanya saya

"Siapa?? Pak Narko??"

Saya ulangi pertanyaan saya, "Bukan pak. Car call"

"Pak Narko?? Di bagian apa ya?? "

Saya menahan tawa. "Bukan pak. Saya mau car call. Tolong untuk Pak Obong dari XXX"

"Oooooo" Pak Kumis kemudian mengambil mikrofon dari balik counter.


Sedetik kemudian terdengar suara Pak Kumis yang menggelegar di seantero lobby dan pelataran parkir.

"KEPADA PAK NARKO...... UNTUK PAK OBONG DARI XXX DIHARAP SEGERA SETENBEI. KAMI ULANGI.... KEPADA PAK NARKO.... UNTUK PAK OBONG DARI XXX DIHARAP SEGERA SETENBEI"

Dan saya pun hampir terjatuh karena kaget.

Selasa, 17 Februari 2009

Bayi itu diberi roti......

Minggu kemarin saya, Pak Uban, Ndul adik saya dan Pak Jepun suaminya, pergi menengok supir mereka yang istrinya baru melahirkan lima hari sebelumnya. Ini merupakan anak mereka yang kedua dan sangat dinantikan (karena laki-laki, dan beda 9 tahun dengan kakak perempuannya).

Saat kami datang, rumah kontrakan mereka yang kecil sedang penuh sesak dengan tamu dari kelompok pengajian dimana pak supir ini, Pawit namanya, merupakan salah satu jamaahnya. Kami dipersilakan masuk ke ruang tamu super mungil, terus ke ruangan dibelakangnya yang juga mungil, dimana bayi dan ibunya berada. Ruang tamu dan ruang belakang ini hanya dipisahkan oleh sekat triplek tanpa pintu.

Ruangan terasa pengap sekali, penuh dengan asap rokok yang memenuhi seluruh rumah mungil itu. Ya, kebanyakan dari peserta pengajian duduk-duduk di lantai ruang tamu dan teras sambil merokok. Saya membatin, duh, kasihan sekali bayi ini dan ibunya, harus menghirup udara yang tercemar oleh asap rokok, di rumah mereka sendiri.

Kami mengobrol dengan sang istri, sambil memandangi bayi mungil yang terus menangis. Mungkin dia kepanasan karena rumahnya penuh dengan orang. Sambil menangis, mulut bayi yang masih merah ini terus bergerak-gerak seakan mencari dada ibunya.

Melihat hal tersebut saya berkata, “Mungkin bayinya lapar ya, soalnya mulutnya seperti mencari-cari.”

Dan dijawab dengan tenang oleh sang Ibu, “Iya memang seperti ini terus, Mbak. Gak mau diem, nangis melulu, lapar terus kayanya. Tadi aja udah saya kasih ROTI, habis kasihan kelaparan.”

Juedeerrr!!!

“Haaaa??” saya dan Ndul tidak bisa menahan jeritan kaget.

Saya memang belum punya anak, tapi saya juga tahu bahwa makanan padat itu sebaiknya diberikan kepada bayi yang berusia 4 bulan keatas. Bahkan sekarang dokter menganjurkan untuk menunda memberikan makanan padat pada bayi sampai usia 6 bulan. Pada usia dibawah itu, disarankan bayi diberi ASI/susu eksklusif. Pencernaan bayi dibawah 6 bulan belum sempurna sehingga dikhawatirkan akan berakibat negative pada bayi bila diberikan makanan padat. Memang, kelihatannya mungkin tidak masalah bila bayi diberikan makanan padat sedari dini selama bayinya mau. Tapi efeknya baru tampak saat si bayi sudah dewasa, dimana dia lebih rentan terhadap gangguan pencernaan, seperti kembung, nyeri ulu hati ataupun sakit maag.

Memberikan makanan padat setelah 6 bulan juga menghindarkan bayi dari kemungkinan alergi dan obesitas. Bayi 6 bulan biasanya sudah dapat duduk atau minimal menegakkan kepala, yang merupakan salah satu syarat bayi siap untuk menerima makanan padat. Ya, sama saja seperti kita orang dewasa, susah kan kalau makan sambil tiduran?

Kembali ke soal istri si Pawit dan bayinya. Bayi ini usianya belum genap 6 HARI, dengan penampakan yang masih merah. Antara geli dan kasihan sebenarnya, mendengar kepolosan sang istri yang mengaku memberikan roti pada si bayi. Sangat kontras dengan adik ipar saya yang sibuk menghitung hari menjelang 6 bulan usia si Ucrit, keponakan saya, dan sibuk mempertimbangkan makanan apa yang pertama-tama akan diperkenalkan pada si Ucrit (pilihannya bubur susu atau pisang). Bayi Pawit ini dalam usia 5 hari sudah diberikan roti, tanpa menghitung hari ataupun mempertimbangkan pilihan makanan. Kebetulan saja dirumah mereka terdapat roti saat itu.

Pulang dari rumah Pawit, saya tambah kaget saat mendengar bahwa di kampung mbak-mbak asisten di rumah saya, di rumah si Ndul, dan di rumah Ibu saya, adalah merupakan suatu hal yang sangat wajar bila bayi usia dini diberikan makanan padat.

“Biasanya bayi umur seminggu dikasih makan nasi halus.” begitu kata asisten si Ndul.

“Wah bagus dong, Mbak, anaknya Pawit sudah mau makan roti.” begitu kata asisten saya

“Saya dulu disuruh cari kelapa muda untuk adik saya yang baru lahir, Mbak.” begitu kata asisten Ibu saya

Juederrr lagi!!!!

Kalau sudah begini, saya miris memikirkan bayi Pawit, dan saya juga miris memikirkan bahwa mungkin banyak bayi Pawit-bayi Pawit yang lain. Bukan dalam arti harfiah bahwa diluaran Pawit mempunyai banyak anak, tapi bayi senasib yang sudah diberikan makanan padat pada usia sangat dini.
Ditambah lagi harus menghirup asap rokok dari lingkungan sekitar.

Jadi rumusnya adalah : kebiasaan karena porsi besar ketidaktahuan ditambah dengan sedikit porsi ketidakpedulian.

Somehow, it doesn’t feel right.

Jumat, 13 Februari 2009

Kecap Addict



Makan soto pakai kecap? Siapa yang tidak suka? Makan bakso pakai kecap? Hmmm… apalagi… Sambal untuk pecel lele dicampurin kecap sedikit? Nyam…nyam…. Sop ayam pake sambal kecap? Tariiik….. apalagi kalau sambal kecapnya dicampur banyak potongan cabe rawit dan tomat. Tempe mendoan pakai sambal kecap? Uuh…. Yummy……

Saya memang penggemar kecap. Buat saya, kecap menambah cita rasa makanan, tentu saja bila ditambahkan dalam proporsi dan paduan yang tepat. Beberapa makanan memang dari segi tekstur, bahan dan rasa, tidak cocok (menurut saya) bila dipadukan dengan kecap, namun pada umumnya saya suka mencampur nasi di piring saya dengan kecap bila lauknya saya pikir cocok. Hal ini bukan hal yang aneh di rumah (ibu) saya, karena hampir semua penghuninya juga menyukai kecap. Meskipun saya akui, kadar kesukaan saya akan kecap sedikiiiit lebih tinggi dibanding penghuni rumah yang lain.

Lain halnya dengan di kantor, kesukaan saya akan kecap ternyata lumayan melegenda. Selain kopi dan teh, kantor saya menyediakan beberapa condiment seperti sambal botol dan kecap. Beberapa orang di kantor termasuk saya, sering menikmati makanan di meja masing-masing, baik itu makan siang atau cemilan sore seperti somay misalnya. Karena itu botol kecap yang ber-pos tetap di pantry sering berkunjung ke meja-meja di kantor. Sering bila ada rekan kantor yang mencari kecap di pantry dan tidak menemukannya, sudah dipastikan bahwa saya yang jadi tertuduh utama. Padahal… belum tentu saya yang menculik botol kecap yang dicari. :)

Tapi dengan latar belakang tersebut, kesukaan saya terhadap kecap ternyata masih belum seberapa dibandingkan dengan Pak Uban. Setelah menikah dengan Pak Uban, saya baru sadar bahwa kesukaan dia pada kecap ternyata levelnya sangat jauh di atas saya. Pak Uban mencampur semua makanannya dengan kecap. Dan pemandangan botol kecap di meja makan menemani sarapan, makan siang, dan makan malam, bukanlah hal yang aneh di rumah saya.

Makanan-makanan yang saya anggap tidak cocok bila dipadukan dengan kecap, dengan tenang dilahap Pak Uban setelah dicampur terlebih dulu dengan kecap. Pertama-tama tentu saya bengong dan protes. Tapi protes saya dengan santai ditanggapi Pak Uban dengan cengiran dan menyendok makanan yang sudah dicampur kecap, kemudian menyuapkan makanan tersebut dalam jumlah banyak ke mulutnya.

Ingin tahu makanan apa saja yang dicampur kecap oleh Pak Uban? Saya tidak ingat semua karena terlalu banyak, tapi dibawah ini adalah daftar beberapa makanan aneh (menurut saya) yang disukai Pak Uban :

Sayur bayam bening…… dicampur kecap
Sayur lodeh…… *sambil nanya, “kecapnya mana?” *
Nasi Kuning tumpeng…… pastinya…. Tambah kecap, dong..
Spaghetti…. (it’s true!! )…… pakai kecap lebih enak katanya….
Mac n Cheese……. So pasti kecap…hiks….
Scrambled Eggs (yang dicampur tomat, keju dan susu)……. Dan ditambah kecap tentunya…
Urap sayur....... yang dituangi kecap..
Semur daging yang tentunya sudah dimasak dengan kecap...... tambah lagi kecapnya.....
Ini paling aneh ...... Nasi putih plus pisang goreng dan….. you guess it right!!..... kecap dooong…..

Belajar dari pengalaman bahwa protes saya tidak akan ditanggapi, akhirnya saya belajar untuk menutup mata (dan mulut) saat melihat Pak Uban mencampur makanannya dengan kecap. Walaunpun saya sering bertanya-tanya sendiri, kira-kira apa komentar Pak Bondan Maknyus kalau melihat Pak Uban makan campuran yang aneh tersebut. Merusak cita rasa kuliner pastinya!! Hehe... yeap..... it's official. Pak Uban is a kecap addict. :)

Image diambil dari www.alibaba.com

Rabu, 24 Desember 2008

Angka

Satu = jumlah bulan menempati kantor baru

Dua = jumlah gelas kopi yang sudah diminum sejak pagi tadi

Tiga = jumlah lebam di tangan dan kaki akibat jatuh tersandung tempat tidur

Empat = jumlah hari cuti yang diambil pada akhir tahun. Horeee....!!

Lima = jumlah season CSI Las Vegas yang sudah ditonton

Enam = angka yang ditunjuk jarum jam saat harus berangkat sore nanti untuk bertemu teman-teman SMA

Tujuh = nomor lantai tempat ngantor di gedung ini

Delapan = jumlah rambutan yang tadi dimakan. Hasil rebutan.

Sembilan = jumlah tahun yang sudah berlalu sejak lulus kuliah. Yikes..!!

Sepuluh = jumlah bulan tersisa sebelum passport expired