Minggu kemarin saya, Pak Uban, Ndul adik saya dan Pak Jepun suaminya, pergi menengok supir mereka yang istrinya baru melahirkan lima hari sebelumnya. Ini merupakan anak mereka yang kedua dan sangat dinantikan (karena laki-laki, dan beda 9 tahun dengan kakak perempuannya).
Saat kami datang, rumah kontrakan mereka yang kecil sedang penuh sesak dengan tamu dari kelompok pengajian dimana pak supir ini, Pawit namanya, merupakan salah satu jamaahnya. Kami dipersilakan masuk ke ruang tamu super mungil, terus ke ruangan dibelakangnya yang juga mungil, dimana bayi dan ibunya berada. Ruang tamu dan ruang belakang ini hanya dipisahkan oleh sekat triplek tanpa pintu.
Ruangan terasa pengap sekali, penuh dengan asap rokok yang memenuhi seluruh rumah mungil itu. Ya, kebanyakan dari peserta pengajian duduk-duduk di lantai ruang tamu dan teras sambil merokok. Saya membatin, duh, kasihan sekali bayi ini dan ibunya, harus menghirup udara yang tercemar oleh asap rokok, di rumah mereka sendiri.
Kami mengobrol dengan sang istri, sambil memandangi bayi mungil yang terus menangis. Mungkin dia kepanasan karena rumahnya penuh dengan orang. Sambil menangis, mulut bayi yang masih merah ini terus bergerak-gerak seakan mencari dada ibunya.
Melihat hal tersebut saya berkata, “Mungkin bayinya lapar ya, soalnya mulutnya seperti mencari-cari.”
Dan dijawab dengan tenang oleh sang Ibu, “Iya memang seperti ini terus, Mbak. Gak mau diem, nangis melulu, lapar terus kayanya. Tadi aja udah saya kasih ROTI, habis kasihan kelaparan.”
Juedeerrr!!!
“Haaaa??” saya dan Ndul tidak bisa menahan jeritan kaget.
Saya memang belum punya anak, tapi saya juga tahu bahwa makanan padat itu sebaiknya diberikan kepada bayi yang berusia 4 bulan keatas. Bahkan sekarang dokter menganjurkan untuk menunda memberikan makanan padat pada bayi sampai usia 6 bulan. Pada usia dibawah itu, disarankan bayi diberi ASI/susu eksklusif. Pencernaan bayi dibawah 6 bulan belum sempurna sehingga dikhawatirkan akan berakibat negative pada bayi bila diberikan makanan padat. Memang, kelihatannya mungkin tidak masalah bila bayi diberikan makanan padat sedari dini selama bayinya mau. Tapi efeknya baru tampak saat si bayi sudah dewasa, dimana dia lebih rentan terhadap gangguan pencernaan, seperti kembung, nyeri ulu hati ataupun sakit maag.
Memberikan makanan padat setelah 6 bulan juga menghindarkan bayi dari kemungkinan alergi dan obesitas. Bayi 6 bulan biasanya sudah dapat duduk atau minimal menegakkan kepala, yang merupakan salah satu syarat bayi siap untuk menerima makanan padat. Ya, sama saja seperti kita orang dewasa, susah kan kalau makan sambil tiduran?
Kembali ke soal istri si Pawit dan bayinya. Bayi ini usianya belum genap 6 HARI, dengan penampakan yang masih merah. Antara geli dan kasihan sebenarnya, mendengar kepolosan sang istri yang mengaku memberikan roti pada si bayi. Sangat kontras dengan adik ipar saya yang sibuk menghitung hari menjelang 6 bulan usia si Ucrit, keponakan saya, dan sibuk mempertimbangkan makanan apa yang pertama-tama akan diperkenalkan pada si Ucrit (pilihannya bubur susu atau pisang). Bayi Pawit ini dalam usia 5 hari sudah diberikan roti, tanpa menghitung hari ataupun mempertimbangkan pilihan makanan. Kebetulan saja dirumah mereka terdapat roti saat itu.
Pulang dari rumah Pawit, saya tambah kaget saat mendengar bahwa di kampung mbak-mbak asisten di rumah saya, di rumah si Ndul, dan di rumah Ibu saya, adalah merupakan suatu hal yang sangat wajar bila bayi usia dini diberikan makanan padat.
“Biasanya bayi umur seminggu dikasih makan nasi halus.” begitu kata asisten si Ndul.
“Wah bagus dong, Mbak, anaknya Pawit sudah mau makan roti.” begitu kata asisten saya
“Saya dulu disuruh cari kelapa muda untuk adik saya yang baru lahir, Mbak.” begitu kata asisten Ibu saya
Juederrr lagi!!!!
Kalau sudah begini, saya miris memikirkan bayi Pawit, dan saya juga miris memikirkan bahwa mungkin banyak bayi Pawit-bayi Pawit yang lain. Bukan dalam arti harfiah bahwa diluaran Pawit mempunyai banyak anak, tapi bayi senasib yang sudah diberikan makanan padat pada usia sangat dini.
Saat kami datang, rumah kontrakan mereka yang kecil sedang penuh sesak dengan tamu dari kelompok pengajian dimana pak supir ini, Pawit namanya, merupakan salah satu jamaahnya. Kami dipersilakan masuk ke ruang tamu super mungil, terus ke ruangan dibelakangnya yang juga mungil, dimana bayi dan ibunya berada. Ruang tamu dan ruang belakang ini hanya dipisahkan oleh sekat triplek tanpa pintu.
Ruangan terasa pengap sekali, penuh dengan asap rokok yang memenuhi seluruh rumah mungil itu. Ya, kebanyakan dari peserta pengajian duduk-duduk di lantai ruang tamu dan teras sambil merokok. Saya membatin, duh, kasihan sekali bayi ini dan ibunya, harus menghirup udara yang tercemar oleh asap rokok, di rumah mereka sendiri.
Kami mengobrol dengan sang istri, sambil memandangi bayi mungil yang terus menangis. Mungkin dia kepanasan karena rumahnya penuh dengan orang. Sambil menangis, mulut bayi yang masih merah ini terus bergerak-gerak seakan mencari dada ibunya.
Melihat hal tersebut saya berkata, “Mungkin bayinya lapar ya, soalnya mulutnya seperti mencari-cari.”
Dan dijawab dengan tenang oleh sang Ibu, “Iya memang seperti ini terus, Mbak. Gak mau diem, nangis melulu, lapar terus kayanya. Tadi aja udah saya kasih ROTI, habis kasihan kelaparan.”
Juedeerrr!!!
“Haaaa??” saya dan Ndul tidak bisa menahan jeritan kaget.
Saya memang belum punya anak, tapi saya juga tahu bahwa makanan padat itu sebaiknya diberikan kepada bayi yang berusia 4 bulan keatas. Bahkan sekarang dokter menganjurkan untuk menunda memberikan makanan padat pada bayi sampai usia 6 bulan. Pada usia dibawah itu, disarankan bayi diberi ASI/susu eksklusif. Pencernaan bayi dibawah 6 bulan belum sempurna sehingga dikhawatirkan akan berakibat negative pada bayi bila diberikan makanan padat. Memang, kelihatannya mungkin tidak masalah bila bayi diberikan makanan padat sedari dini selama bayinya mau. Tapi efeknya baru tampak saat si bayi sudah dewasa, dimana dia lebih rentan terhadap gangguan pencernaan, seperti kembung, nyeri ulu hati ataupun sakit maag.
Memberikan makanan padat setelah 6 bulan juga menghindarkan bayi dari kemungkinan alergi dan obesitas. Bayi 6 bulan biasanya sudah dapat duduk atau minimal menegakkan kepala, yang merupakan salah satu syarat bayi siap untuk menerima makanan padat. Ya, sama saja seperti kita orang dewasa, susah kan kalau makan sambil tiduran?
Kembali ke soal istri si Pawit dan bayinya. Bayi ini usianya belum genap 6 HARI, dengan penampakan yang masih merah. Antara geli dan kasihan sebenarnya, mendengar kepolosan sang istri yang mengaku memberikan roti pada si bayi. Sangat kontras dengan adik ipar saya yang sibuk menghitung hari menjelang 6 bulan usia si Ucrit, keponakan saya, dan sibuk mempertimbangkan makanan apa yang pertama-tama akan diperkenalkan pada si Ucrit (pilihannya bubur susu atau pisang). Bayi Pawit ini dalam usia 5 hari sudah diberikan roti, tanpa menghitung hari ataupun mempertimbangkan pilihan makanan. Kebetulan saja dirumah mereka terdapat roti saat itu.
Pulang dari rumah Pawit, saya tambah kaget saat mendengar bahwa di kampung mbak-mbak asisten di rumah saya, di rumah si Ndul, dan di rumah Ibu saya, adalah merupakan suatu hal yang sangat wajar bila bayi usia dini diberikan makanan padat.
“Biasanya bayi umur seminggu dikasih makan nasi halus.” begitu kata asisten si Ndul.
“Wah bagus dong, Mbak, anaknya Pawit sudah mau makan roti.” begitu kata asisten saya
“Saya dulu disuruh cari kelapa muda untuk adik saya yang baru lahir, Mbak.” begitu kata asisten Ibu saya
Juederrr lagi!!!!
Kalau sudah begini, saya miris memikirkan bayi Pawit, dan saya juga miris memikirkan bahwa mungkin banyak bayi Pawit-bayi Pawit yang lain. Bukan dalam arti harfiah bahwa diluaran Pawit mempunyai banyak anak, tapi bayi senasib yang sudah diberikan makanan padat pada usia sangat dini.
Ditambah lagi harus menghirup asap rokok dari lingkungan sekitar.
Jadi rumusnya adalah : kebiasaan karena porsi besar ketidaktahuan ditambah dengan sedikit porsi ketidakpedulian.
Somehow, it doesn’t feel right.
Jadi rumusnya adalah : kebiasaan karena porsi besar ketidaktahuan ditambah dengan sedikit porsi ketidakpedulian.
Somehow, it doesn’t feel right.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar